Rabu, 08 Juni 2011

SABAR

Rabu, 08 Juni 2011
Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani tentang 
SABAR







1. Allah memberikan ujian dan cobaan dengan berbagai bentuk :





Cobaan jasmani dan rohani yang berupa penyakit, kecelakaan, rasa duka cita dll





Cobaan berupa kehilangan harta kekayaan, kebakaran dll





Cobaan melalui sanak keluarga yang ditimpa penyakit, kematian dll.




Pada dasarnya semua ujian dan cobaan yang menimpa itu adalah :
Disebabkan kedurhakaan terhadap Allah oleh manusia itu sendiri, itu sebagai balasan
untuk menghapuskan dosa kedurhakaannya itu, agar manusia menjadi sadar atas
kedurhakaannya




Takdir Allah untuk menguji hamba-Nya dan kelak di akherat akan diganti dengan rahmat
dan keridlaan-Nya untuk yang sabar dan tawakkal ketika menerima ujian dan cobaan
tersebut.




2. Wahai hamba Allah, bersabarlah kamu karena dunia seisinya meru pakan suatu ujian dan
cobaan.


Tiada nikmat kecuali disertai sakit, tiada kelapangan kecuali disertai kesempitan.




3. Terdapat 4 macam kesabaran :




Menahan diri dari segala perbuatan jahat, dan dari menuruti dorongan hawa nafsu
angkara murka. Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang mungkin dapat
menjeru muskan diri ke jurang kehidupan dan merugikan nama baiknya. Maka ketika
syahwat bergejolak hendak menggo ncangkan keyakinan dan keimanan, hanya sabar lah
yang dapat meneguhkan keimanan dengan memaksakan diri supaya berhenti di
perbatasan syarak, dan sabar seperti inilah yang menyelamatkan keimanan kita.








Sabar dalam menjalankan suatu kewajiban, yaitu tidak merasa berat atau merasa bosan
dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, suatu ibadah adalah membutuhkan suatu
kesabaran.




Sabar dalam membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, menjaga nama baik bagi
dir inya, keluarganya dan bangsanya. Sabar sepert ini adalah berani untuk membela
kebenaran.




Sabar terhadap kehidupan dunia, yaitu sabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut
kepada kenikmatan kehidupan dunia, dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai
tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan
yang kekal diakherat nanti.




4. Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa sabar adalah tetap tegaknya do rongan agama
menghadapi do rongan hawa nafsu. Sabar adalah sifat yang membedakan manusia dengan
hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu adalah tuntutan
syahwat dan keinginan yang minta dipenuhi. Jadi sabar adalah suatu kekuatan, daya positip
yang mendo rong jiwa untuk melaksanakan kewajiban. Demikian pula sabar merupakan
kekuatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan.




5. Kebanyakan orang menduga bahwa sabar itu berarti merendahkan diri dan menyerahkan
kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam situasi dan kondisi, atau menghentikan usah
tanpa berusaha mencari jalan keluar yang baik, tanpa memperbaik i dan memperkuat amal
perbuatan. Pengertian tersebut tidaklah tepat, sebab yang dimaksudkan dengan sabar adalah
menghadapi cobaan dan ujian dengan cara yang baik, berusaha mencari jalan keluar dengan
cara yang baik pula, dan membiasakan diri melakukan amal perbuatan yang saleh dan usaha
yang terpuji yang disertai dengan doa kep ada Allah sambil menjadikan penglamannya itu
suatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan, keyakinan yang
ist iqomah.




6. Wahai hamba Allah, janganlah kamu lar i dari ujian dan cobaan, karena datangnya ujian dan
cobaan yang dibarengi dengan sabar itu sebagai pondasi setiap kebaikan, pondasi kenabian,
ker asu lan, kewalian, dan kear ifan, juga kecintaan kepada Allah itu ada pada ujian dan
cobaan.
Jika kamu tidak sabar atas datangnya ujian dan cobaan yang menimpa kamu, berarti kamu
tidak punya pondasi. Sesu ngguhnya kamu yang lari dari ujian dan cobaan yang menimpa
kamu, berarti kamu tidak butuh kewalian, makrifat dan dekat dengan Allah. Bersabarlah
kamu sehingga kesabaran itu seiring bersama hatimu, rahasiamu, dan rohmu pada pintu yang
lebih dekat pada Allah Azza wa Jalla.


7. Manusia itu tidak lepas dari beban yang diberikan Allah kepadanya. Maka, kamu harus
mengerti bahwa sabar atas beban, qodlo, dan qodar itu jauh lebih baik dibandingkan isi dunia
dan akherat yang diserahkan kepadamu untuk bertasawuf.




8. Wahai hamba Allah, perbanyaklah sifat diam dan sabar dari orang-orang yang menyak itimu.
Jika mereka berbuat dosa besar yaitu melakukan maksiat kepada Allah, barulah kamu tidak
boleh diam karena hal itu terlarang dan haram bagimu untuk berdiam diri. Disaat itu
menasehati adalah termasuk ibadah sedang membiarkannya adalah suatu kemaksiatan.
Apabila kamu mampu menegakk an amar makruf nahi munkar itu merupakan jalan yang baik
yang telah terbuka dihadapanmu, maka masukilah dengan segera.




9. Wahai hamba Allah, kerjakanlah perintah-Nya dan hentikanlah per buatan terlar ang.
Bersabarlah kamu dalam mener ima ujian dengan memperbanyak amalan su nah sehingga
kamu disebut orang sabar yang beramal untuk mencari taufik Allah. Rendahkanlah dirimu
dihadapan-Nya. Hentikan maksiat dari jalur lahir dan membencinya melalui jalur batin.
Peganglah taufik-Nya, dan bersabarlah kamu atas ketentuan-Nya.




10. “Sabar itu adalah bagian dari iman, seperti kepala merupaka bagian dari tubuh.”
(Alhadits)
Jika iman tanpa kesabaran bagaikan tubuh tidak berkepala, maka jika tidak sabar ter hadap
ujian yang menimpa berarti keimanannya mati, seperti matinya orang yang hilang kepalanya.
Adapun makna sabar adalah tidak mengadu kep ada seo rangpun ketika mendapat ujian dan
cobaan, tidak tergantung pada kasualita (hukum sebab akibat), tidak membenci cobaan dan
juga tidak merasa gembira akan hilangnya cobaan.
Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani, Halaman 16




11. Untuk mengetahui sampai dimana kadar cinta kita kepada Allah, maka Allah akan menguji
dimana kita tidak akan lepas dari segala ujian yang menimpa kita baik musibah yang
berhubungan dengan diri kita sendiri, maupun yang menimpa pada sekelompok manusia atau
bangsa. Terhadap semua ujian itu, hanya sabarlah yang memancarkan sinar yang memelihara
seorang muslim dari jatuh kepada kebinasaan, memberikan hidayah yang menjaga dari rasa
putus asa.
Sebagai orang muslim wajib menegu hkan hatinya dalam menanggung segala u jian dan
penderitaan dengan tenang. Demikian juga dalam menunggu hasil pekerjaan, kita hadapi
dengan ketabahan dan sabar serta tawakkal.




12. Apabila seseorang menghadapi cobaan atau penderitaan itu dengan ridlo, ikhlas dan mencari
jalan keluar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, tidak mengadu, apalagi
merintih, maka Allah pasti akan memudahkan baginya urusan hisabnya. Allah akan
menyegerakan pahalanya, memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya tidak
diberati dengan kejahatan tetapi diberati dengan ketaatan dan pahala. Jadi, apabila manusia
itu menghadapi ujian dengan sabar, maka ia termasuk lulus dari ujian itu. Tetapi apabila
menghadapi ujian dengan tidak sabar, maka ia tergolong manusia yang tidak berhasil, dan
putus asa itu bukanlah sifat orang mukmin




13. Orang-orang yang mencintai Allah tentu rela atas ketentuan-Nya, bukan kepada yang lain-
Nya.


 Mereka selalu memohon pertolongan dari-Nya dan mempersempit selain Dia. Pahitnya
dan susahnya kefakiran sebagai kemanisan baginya, tanpa mengurangi arti rela kepada-Nya,
dan merasa senang dan nikmat bila bersama-Nya. Kayanya dalam kefakirannya, nikmatnya
dalam kesakitannya, kejinakannya dalam ketakutannya, dan dekatnya dalam jauhnya.
Alangkah senang bagimu wahai orang-orang yang sabar, orang-orang yang rela, orang-orang
yang memadamkan nafsu dan hawanya.

0 komentar:

Poskan Komentar