Rabu, 08 Juni 2011

HATI

Rabu, 08 Juni 2011
Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani tentang HATI






1. Wahai hamba Allah, apabila kamu lebih mengutamakan mahluk daripada Pencipta mahluk,
maka sebenarnya kamu itu dalam kesakitan, dalam kebinasaan, dan sampai kapan
per ilaku mu itu kamu tunjukkan dihadapan Allah Al-Hak, dan sampai kap an lag i kamu sadar
dari keingkaranmu itu ?
Sampai kapan lagi kamu menghidupkan dunia dan mematikan akherat ? Sesungguhnya setiap
manusia itu cuma berhati satu, maka tidak akan bisa mencintai dunia dan akherat dalam satu
waktu. Kalau hatimu cinta dunia kamu akan melupakan akherat dan jika kamu mencintai
akherat, maka dunia akan kamu lupakan dan tidak kamu cintai. Oleh sebab itu, cintailah
kehidup an yang lebih kekal d iantara keduan ya. Ingat, kehidupan dunia ini sangat terbatas,
singkat sekali bagimu, lalu dunia akan kamu tinggalkan begitu saja.
Hati manusia itu satu, tidak mungkin bisa berdzikir kepada Pencipta dan yang diciptakan
dalam satu waktu. Kalau hatimu telah kamu isi dengan dzikir kepada Allah, maka yang
selain-Nya akan kamu lupakan, tetapi jika kamu berdzikir (ingat) selain Allah, maka Allah
akan kamu lupakan. Kalau kamu mengaku mencintai dunia dan ak herat, dan jika kamu
mengaku ingat Pencipta dan yang diciptakan, semua itu adalah pengakuan dusta semata.




2. Wahai hamba Allah, bila kamu cinta Allah atau mencintai yang lain, janganlah kamu satukan
dalam satu hati dikarenakan kamu tidak mungkin akan mampu, dikarenakan kalau kamu
telah mencintai dunia berarti kamu tidak cinta kepada Allah Azza wa Jalla.
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.”
(Al-
Quran, Al-Ahzab 4)
Dunia dan akherat tidak dapat dipadukan. Pencipta dan yang diciptakan tidak dapat
disatukan. Tinggalkanlah sesuatu yang fana (yang dapat sirna) sehingga memperoleh sesuatu
yang tidak fana (kekal). Relakan dirimu dan hartamu hingga kamu memperoleh surga-Nya




3. Ketahuilah bahwa mahluk dan Pencipta tidak bisa disatukan, dunia dan akherat dalam hati
tidak dapat dipadukan, tidak bisa dilukiskan, tidak bisa dibenarkan. Tetapi keberadaan
mahluk dapat diluk iskan dalam lahir jiwamu, dan Pencipta terlukis melalui batin. Dunia
ditangan dan akherat dalam hatimu, dimana jika sudah dihati janganlah kamu satukan.




4. Lihatlah dirimu dan pilihlah untuk-Nya. Jika kamu menghendaki dunia, keluarkan akherat
dari hati, dan jika menghendaki akherat maka bebaskanlah dunia dari hati. Jika kamu ingin
dekat dengan Allah, maka bebaskanlah hatimu dari dunia dan akherat. Selama dalam hatimu
terdapat sesuatu selain Allah maka kamu tidak akan bisa melihat kedatangan-Nya, dan tidak
bisa menyatakan berjinak dan berdiam untuk-Nya. Selama dalam hatimu gandrung dunia, tak
akan dapat melihat akherat, dan selama dalam hatinya masih terdapat akherat, maka tidak
dapat menyaksikan Tuhan. Janganlah kamu mendekati pintu-Nya kecuali dengan hati yang
murni, agar usahamu tidak sia-sia.


5.“Sesungguhnya hati itu berkarat, dan sesungguhnya penjernihannya adalah dengan
membaca Al-Quran, ingat mati, dan mendatangi majlis dzikir.”
(Alhadits)
Hati itu berkarat, kotor, dan gelap dimana untuk menjernihkan hati adalah dengan
memperbanyak membaca Al-Quran, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, yaitu
suatu pertemuan untuk mengingat Allah dan dzikir kepada-Nya. Jika tidak mau
memperbanyak membaca Al-Quran, mengingat mati, dan mendatangi majlis dzikir, maka
hati menjadi gelap, gelap karena jauhnya dari cahaya kebenaran, karena cintanya kepada
dunia dan kehidupannya yang tidak disertai sifat warak. Siapa saja yang hatinya ditempati
rasa cinta dunia maka lenyaplah sifat waraknya, yang tinggal hanyalah gabungan halal dan
haram. Ini berakibat lenyapnya rasa malu kepada Tuhan dan enggan mendekatkan diri
kepada-Nya.
Wahai hamba Allah, terimalah apa yang disampaikan Nabimu, lenyapkan karat dihatimu
dengan obatnya, sebagaimana telah dijelaskan kepadamu. Seandainya kamu sakit dan dokter
menunjukkan obat-obatnya, tentu tidak akan tercapai ketenteraman hidup sebelum kamu
melaksanakan perintah dokter itu.




6. Wahai orang yang mensucikan diri, terapkanlah kesucianmu dalam batin, dalam hati,
kemudian dalam jiwa dan dalam tubuhmu. Petunjuk zuhud itu datang dari sana, bukan dari
lahir ke batin. Apabila batin telah jernih, maka kejer nihan itu berputar menuju hati, jiwa,
anggota tubuh, makanan, minu man, dan ke seluruh tingkah laku.




7. Allah pencipta penyakit dan obat. Durhaka itu penyakit dan taat itu sebagai obat, aniaya itu
penyakit dan adil itu obatnya, salah itu penyakit dan benar itu obatnya, menentang Allah itu
adalah penyakit dan tobat atas dosa itu adalah obatnya. Obatmu akan sempurna jika mahluk
kamu pisahkan dar i hatimu, lalu kamu jalin hubungan yang erat dengan Allah.




8. Kamu tidak akan dapat mencapai Allah selama kamu masih membawa najis, lahirmu tidak
dapat masuk kedalam kekuasaan-Nya bersama benda-benda najis yang tersimpan dalam
batinmu. Suatu amalan tidak akan kamu per oleh sebelum ter enung dalam jiwa yang bersih,
dan pada gilirannya memasukkan dirimu dalam kerajaan-Nya




9. Wahai hamba Allah, gerakan lisan tanpa dibarengi dengan amalan hati tidak akan mampu
mengajakmu sampai kep ada Allah Azza wa Jalla. Per jalanan itu hanyalah per jalanan hati,
kedekatan itu hanyalah kedekatan hati, amalan itu hanyalah amalan yang berfungsi, menjaga
hukum syariat itu melalui anggota tubuhmu dan berendah diri untuk beribadah. Barangsiapa
yang menjadikan lidahnya sebagai tolok ukur, maka ia tidak punya ukuran. Barangsiapa
menampakkan amal kepada manusia, maka tiada amal baginya. Usahakan beramal dengan
sembunyi, jangan kamu tampakkan secara terang-terangan kecuali amalan wajib.


10. Wahai hamba Allah, semua obat terletak dalam penyerahan diri dihadapan Allah, memutus
kausalitas (hukum sebab akibat) dan mengosongkan diri dari tuhan-tuhan selain Allah Yang
Hak. Tetapi yang manjur terletak dalam peng-Esaan Allah menurut hati bukan menurut
ucapan. Tauhid terletak dalam hati, zuhud dihati, makrifat d ihati, takwa dihati, pengetahuan
tentang Allah dihati, cinta Allah dalam hati, dan dekat dengan Allah juga dalam hati bukan
pada lisan. Sekalipun lisanmu mengucapkan atau berdzikir beribukali dalam sehari, tetapi
jika dalam hatimu ter bang kemana-mana, ingat harta benda dunia, ingat mahluk yang hina,
maka ucapanmu itu seperti orang yang kesurupan, yang berbicara seenak nya tanpa dihayati
makna yang terkandung didalamnya.




11. Wahai hamba Allah, kehendak mu kepada Allah itu tidak benar kecuali semata-mata hanya
kamu tujukan kepada-Nya. Setiap orang yang hendak menuju Allah tetapi masih dibarengi
dengan menuju kepada orang lain, maka sia-sialah semua usahanya itu. Hendak menuju
kepada Allah itu harus murni, harus berhati suci dan bebas dar i yang selain Allah, dan kalau
tidak maka usaha itu dinamakan ria, syirik, mempersekutukan Allah dengan benda lain.
Amal seperti ini adalah lebih mengutamakan du nia dar ipada akherat, dan siapa yang lebih
mengutamakan dunia daripada akherat, maka orang itu termasuk orang yang merugi, rugi
didunia karena hatinya tidak tenang, hatinya selalu gundah karena keinginannya tidak pernah
sepenuh nya ter penuhi, dan rugi diak herat karena disana nanti akan memperoleh imbalan
siksa yang menghinakan.




12. Wahai hamba Allah, beramallah kamu dengan anggota tubuhmu dan hadapk anlah hatimu
kepada-Nya semata. Amalanmu adalah untuk dirimu sendiri dan untuk persiapanmu
menghadapi pertemuanmu dengan Tuhanmu nanti, maka dalam beramal hadapkan hatimu
kepada-Nya, bukan kepada yang selain Dia. Ilmu lahir menjadi penerang lahir sedang ilmu
batin menjad i penerang batin. Ilmu sebagai penerang antara kamu den gan Tuhanmu. Kalau
kamu beramal menurut ilmu yang kamu miliki tentu memperdekat jalanmu kepada Allah Al-
Haq, memperlebar pintu antara kamu dan Tuhanmu.




13. Wahai hamba Allah, cintamu terhadap sesuatu selain Allah itu adalah cinta yang semu, cinta
yang mudah lenyap, dikarenakan cinta sejati adalah cintanya seorang hamba kepada
Tuhannya. Kalau kamu mencintai mahluk, maka cintamu itu sangat terbatas, mudah lenyap,
bahkan mudah sekali berubah menjadi suatu kebencian, menjadi musuh bagimu. Tetapi
cintamu kepada Allah adalah cinta hakiki, perasaan cinta yang kekal abadi, yang membawa
tenangnya hatimu bersama-Nya dalam setiap saat dan waktu, bahkan disaat-saat akhir
hayatmu pun perasaan cinta dan perasaan tenang itu akan selalu menyelimutimu. Tetapi aneh
sekali karena kamu lebih suka melupakan Allah daripada melupakan ciptaan-Nya.
Wahai hamba Allah, cinta orang-orang yang benar kepada Allah itu adalah cinta yang tak
tergoyahkan oleh apapun, karena cintanya keluar dari mata hati. Cinta mereka bukan sekedar
iman bahkan d isertai yakin. Kalau mata terbuka dari tabir penutup mata hati, maka
merekapun mampu menembus apa yang ada dalam gaib maupu n melihat sesuatu yang tidak
mungkin mampu disingkap oleh orang lain.




14. Wahai hamba Allah, jika tobatmu murni, imanmu pun suci. Menurut ahli sunnah, iman itu
bertambah dan berkurang, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena melakuk an
maksiat. Demikianlah hak dan kewajiban manusia yang harus diper hatikan. Tetapi untuk
orang-orang pilihan, iman mereka selalu bertambah karena lenyapnya mahluk dari merek a.
Bertambah karena ketenteraman mereka bersama Allah dan berkurang karena ketenteraman
mereka bersama selain Allah.




15. Sesungguhnya kebahagiaan hati tidak bisa diperoleh kecuali setelah ada pembatas nafsu.
Apabila kamu sanggup mencegah tentu pintu kebahagiaan terbuka untukmu. Sehingga bila
hati berkarya, kebahagiaan segera datang dari Allah, rahmat datang pada jiwa.

0 komentar:

Poskan Komentar