Rabu, 08 Juni 2011

ILMU

Rabu, 08 Juni 2011
Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani tentang ILMU



1. Agama kamu dapat hancur dan lenyap disebabkan oleh 4 hal :


Kamu tidak mau beramal terhadap sesuatu yang telah kamu ketahui.


Kamu melakukan sesuatu pekerjaan dengan dasar yang tidak kamu ketahui.


Kamu tidak mau belajar terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui, bahkan kamu membiarkan dirimu kekal dalam kebodohan.
Kamu menghalangi orang lain untuk belajar sesuatu yang tidak mereka ketahui.




2. Dalam mencari ilmu seharusnya :




Diusahakan diperoleh dengan metode burung gagak, yaitu jika mencari mangsa


berangkat pagi-pagi benar, demikian pula ketika mencari ilmu.
Dengan kesabaran unta. Sabar dalam menanggung beban berat yang dialami ketika
mencari ilmu.




Dengan ker akusan babi hutan. Kerak usan terhadap ilmu, giat belajar.


Dengan kecemburuan anjing, dalam menjaga ilmu.




3. Wahai hamba Allah, janganlah kamu sia-siakan hidup berdasarkan ilmu tanpa menjaganya dengan pengamalan.


 Karena hal itu tidak bermanfaat bagimu. Untuk apa kamu berilmu kalau
tidak kamu amalkan. Ber ilmu itu wajib bagimu dan mengamalkannya pun wajib, tidak bisa
dipisah-pisahkan antara ilmu dan amal, sebab amal itu butuh ilmu dan amal merupakan suatu
kewajiban yang harus kamu lakukan.
Ibarat sebuah pohon, ilmu adalah batang nya sedang amal adalah buahnya. Hidup ini harus
berilmu, dan dari ilmu itu menghasilkan buah, dan buah itulah yang disebut amalan kita.




4. Ilmu itu dijadikan agar diamalkan, bukan hanya untuk dipelihara saja.


 Belajarlah dan beramallah lalu kenali orang lain. Kalau kamu berilmu kemudian rela beramal, maka ilmu itu
terucap darimu ketika kamu diam. Maka berbicaralah kamu dengan lisan yang dihiasi amal.
Jangan sampai kamu berbicara tentang ilmu tetapi tidak kamu sertai dengan amal, bagaikan
pohon tidak berbuah. Seorang ulama berkata : ³Ilmu siapa tidak bermanfaat, maka tidak
bermanfaat pula tuturnya. 


Wahai hamba Allah, orang beramal dengan ilmu akan mendapat manfaat dengan ilmu
tersebut, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.




5. Janganlah kamu datang hanya membawa sepucuk ilmu lalu merasa cukup. 


Sesungguhnya
ilmu itu harus disertai amal. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tidak berbuah, dan beramal
tanpa ilmu bagaikan membangun rumah diatas pondasi yang rapuh, tak akan dapat tegak.
Janganlah kamu menjadi penjual amal dengan ilmu, karena diantara kamu banyak orang
yang pandai ber pantun disertai ibarat-ibarat dan kebenaran-kebenaran meliputi balag hahnya
namun tidak disertai dengan amalan, bahkan tidak punya rasa ikhlas. Seandainya kamu mau
melatih hati, tentu anggota tubuhmu ikut terlatih, karena hati itu pusat o rgan tubuh yang ada.
Ilmu itu seperti kulit dan amal bagaikan kerangka. Kulit itu bisa dipelihara jika kerangkanya
terpelihara, jika kulitnya rusak, maka rusak pula kerangkanya. Jika amal tidak ada maka ilmu
itu lenyap dengan sendirinya. Mana mungkin ilmumu bermanfaat bagimu kalau tidak kamu
amalkan. Wahai orang berilmu, jika kamu ingin memperoleh kebaikan didunia dan diakherat,
amalkanlah ilmumu, ajarilah manusia. Hai orang kaya, jika kamu ingin baik didunia dan di
akherat, ringankanlah beban orang-orang fakir.




6. Perbaguslah persahabatanmu dengan Allah, takutlah kepada-Nya, beramallah dengan
hukum- huku m-Nya, tunaikan hak-Nya. 


Apabila kamu ber amal menggunakan hukum Allah
berarti telah menunaikan amal dengan usahamu, bahkan kamu termasuk mendorong orang
lain untuk mengamalkan hukum-hukum-Nya. Ilmu yang kamu miliki dan amalkan, setelah
kamu amalkan akan timbul ilmu lagi bagimu tanpa kamu pelajari, ini adalah anugerah Allah
karena perbuatan baikmu.




7. Satu kali kecelakaan bagi orang jahil (bodoh, tidak berilmu) yaitu karena tidak mau belajar,
dan tujuh kali kecelakaan bagi orang beriman karena menyia-nyiakan ilmunya.




Orang berilmu tetapi tidak beramal, mak a lenyap lah berkah ilmunya dan lepaslah tanda
baginya. Berilmu lalu beramal kemudian memperbaiki cinta Allah, maka apabila cintamu
bersih niscaya hal itu semakin mendekatkan kamu kepada-Nya dan mengosongkan yang lain.
Jika dikehendaki, perbuatan tersebut dapat memperharum namamu dihadapan mahluk,
bahkan semakin menambah pembagianmu.




8. Wahai hamba Allah, janganlah kamu menghina ahli huku m dan ulama, karena ucapan
mereka menjadi pengobat dan rancangan kalimatnya sebagai buah.


 Terimalah ulama yang bertakwa, agar kamu memperoleh berkah. Kamu jangan menemani ulama yang tidak beramal dengan ilmunya, karena apabila kamu bergau l dengan mereka tentu bencana akan menimpa kamu, mereka malah mencelakakan kamu.




9. Celaka kamu, sampai kapan kamu mempersibuk dirimu dan sibuk mengurusi keluargamu
sampai lupa mengabdi kepada Allah Azza wa Jalla.


 Seorang ulama berkata : Apabila kamu
mengajar anakmu, sertakanlah niat dan agar disibukkan dia bersama Allah. Ketahuilah bahwa niat itu bisa membuat baiknya sesuatu dan ber harga tinggi. Ajarilah anakmu dengan
ilmu tauhid dan akhiri dengan ilmu yang menjurus ibadah kepad a Allah Azza wa Jalla.

0 komentar:

Poskan Komentar