Selasa, 01 November 2011

Keutamaan dan hikmah qurban

Selasa, 01 November 2011
*Keutamaan Dan Hikmah Qurban*

Di dalam syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw, perintah dan larangan selalu ada
dan terus berjalan kepada setiap hamba selama ruh masih bersama jasadnya. Dan selama itu pula
manusia dapat menambah kedekatannya kepada Allah swt dengan melakukan perintah-perintah
syariat yang mulia. Baik yang berupa kewajiban maupun yang sunnah.
Dan kesunnahan yang dilakukan si hamba inilah yang menjadi bukti keberhasilannya dan
keuntungannya dalam kehidupan dunia. Sebab ibadah wajib ibarat modal seseorang, mau
tidak mau, suka tidak suka dia harus menjalankannya, sedang amal sunnah itulah
keuntungannya. Alangkah ruginya manusia jika di dunia hanya beribadah yang wajib saja atau dengan kata lain setelah bermuamalah dia kembali modal, tidak mendapat
keuntungan sedikitpun. Maka ibadah sunnah ini hendaknya kita kejar, kita amalkan,
sebab itulah bukti kesetiaan kita dalam mengikuti dan mencintai Rasulullah Saw, beliau
saw bersabda (yang artinya):

*“ Barang siapa menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku,
dan siapa yang* *mencintaiku, maka kelak akan
berkumpul bersamaku di surga “. (HR.As Sijizi dari**Anas bin Malik, lihat Al Jami’ush Shoghir)*

Bahkan dalam hadits qudsi Allah menyatakan bahwa Dia sangat cinta kepada
hamba yang suka menjalankan amal-amal sunnah, sehingga manakala Dia telah mencintai hamba
tersebut, Dia akan menjaga matanya, pendengarannya, tangan dan kakinya.
Semua anggota tubuhnya akan terjaga dari maksiat dan pelanggaran. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori dari Abu Hurairah RA.

Dari sekian banyak sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah melakukan qurban, yaitu menyembelih binatang ternak, berupa onta, atau sapi(lembu) atau kambing dengan syarat dan waktu yang
tertentu. Bahkan kesunnahan berqurban ini
adalah sunnah muakkadah, artinya kesunnahan yang sangat ditekankan dan dianjurkan.

*Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim dalam Shohihnya dari Anas bin*Malik, beliau berkata :

*“ Rasulullah saw berudhiyah (berkurban) dengan dua kambing putih dan
bertanduk,*
*beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia, beliau mengawali(penyembelihan itu) denganbasmalah*
*kemudian bertakbir …”*
*Tapi hendaknya kita mengetahuibahwa kesunnahan kurban adalah untuk umat Nabi* Muhammad saw, sedang bagi beliau justru adalah sebagai kewajiban, ini termasuk* *sekian banyak kekhususan yang
diberikan oleh Allah kepada Rasulullah saw.*


*Pengertian qurban secara terminologi syara’ tidak ada perbedaan, yaitu
hewan*
*yang khusus disembelih pada saat Hari Raya Qurban (’Idul Al-Adha 10 Dzul*Hijjah) dan hari-hari tasyriq (11,12, dan 13 Dzul Hijjah) sebagai upaya untuk* *mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.*
Dalam Islam qurban disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Saat itu Rasulullah keluar menuju masjid
untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha dan membaca khutbah `Id.
Setelah itu beliau berqurban dua ekor kambing yang bertanduk dan berbulu putih. Tradisi qurban sebetulnya telah menjadi kebiasaan umat-umat terdahulu, hanya saja prosesi dan ketentuannya tidak sama persis dengan yang ada dalam syariat Rasulullah.

*Allah SWT befirman, “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang*
*mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu
(Muhammad)*

*dalam urusan syariat ini. Dan serulah kepada agama Tuhanmu, sesungguhnya kamu*
*benar- benar berada pada jalan yang
lurus” (QS AI-Haj : 67).*

Bahkan qurban telah menjadi salah satu ritus dalam sejarah pertama manusia. Seperti
dikisahkan dengan jelas dalam AI- Quran surah Al-Maidah ayat 27 mengenai prosesi qurban yang dilakukan oleh kedua putra Nabi Adam AS, qurban
diselenggarakan tiada lain sebagai refleksi syukur hamba atas
segala nikmat yang dianugerahkan Tuhannya, di
samping sebagai upaya taqarrub ke hadirat-Nya.



*Dalil Qurban dan Keutamaan berkurban*


*Allah SWT berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah”*(QS Al-Kautsar: 1-2). Mayoritas ulama*
*berpendapat bahwa yang dimaksud dengan*
*shalat di sini adalah shalat hari `Idul Adha,*
*sedangkan yang dimaksud dengan*
*menyembelih adalah menyembelih hewan*
*qurban. *
*Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi,
Ibnu Majah dan al Hakim dari Zaid bin Arqam,*
*bahwsanya Rasulullah saw bersabda
(yang artinya):*
*“ Al Udhiyah (binatang kurban), bagi
pemiliknya (yang berkurban) akan
diberi pahala*
*setiap satu rambut binatang itu satu
kebaikan “.*
*Diriwayatkan oleh imam Abul Qasim
Al Ashbahani, dari Sayyidina Ali bin
Abi
*
*Thalib, bahwa Rasulullah saw
bersabda (yang artinya):*
*“ Wahai Fathimah, bangkitlah dan
saksikan penyembelihan binatang
kurbanmu,*
*sungguh bagimu pada awal tetesan
darah binatang itu sebagai
pengampunan
untuk*
*setiap dosa, ketahuilah kelak dia akan
didatangkan (di hari akhirat)
dengan daging*
*dan darahnya dan diletakkan diatas
timbangan kebaikanmu 70 kali lipat “.*
-- --- --- --- --- --- --- --- --- --- -
*Page 4*
*Rasulullah saw bersabda (yang
artinya): *
*“ Barang siapa berkurban dengan
lapang dada (senang hati) dan ikhlas
hanya*
*mengharap pahala dari Allah, maka
dia akan dihijab dari neraka (berkat*
*udhiyahnya) “. (HR. Ath Thabarani
dari Al Husein bin Ali)*
*Dalil dari hadits, dari Siti Aisyah RA,
Rasulullah SAW bersabda (yang
artinya), ‘Tiada*
*amal anak-cucu Adam pada waktu
Hari Raya Qurban yang lebih disukai
Allah*
*daripada mengalirkan darah
(berqurban). Dan bahwasanya darah
qurban itu
sudah*
*mendapat tempat yang mulia di sisi
Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka
laksanakan*
*qurban itu dengan penuh ketulusan
hati.” (HR. At Tirmidzi)*
*Dari Anas RA, ia berkata, “Nabi SAW
mengurbankan dua ekor kambing yang
putih-*
*putih dan bertanduk. Keduanya
disembelih dengan kedua tangan
beliau yang
mulia*
*setelah dibacakan bismillah dan
takbir, dan beliau meletakkan kakinya
yang*
*berbarakah di atas kedua kambing
tersebut:’ (HR Muslim).*
Rasulullah SAW bersabda tentang
keutamaan qurban bahwasanya
qurban itu akan
menyelamatkan pemiliknya dari
kejelekan dunia dan akhirat. Beliau juga
bersabda (yang
artinya),
“Barang siapa telah melaksanakan
qurban, setelah orang itu keluar dari
kubur nanti, ia
akan menemukan qurbannya berdiri di
atas kuburannya, rambut qurban itu
terdiri dari
belahan emas, matanya dari yaqut,
kedua tanduknya dari emas pula. Lalu
ia
terheran-
heran dan bertanya, ‘Siapa kamu ini?
Aku belum pernah melihat sesuatu
seindah kamu.’
Hewan itu menjawab, “Aku adalah
qurbanmu yang engkau persembahkan
di dunia
sekarang. Naiklah ke alas
punggungku”. Kemudian ia naik dan
berangkatlah
mereka
sampai naungan Arasy, di langit yang
ketujuh”
*Rasulullah SAW bersabda (yang
artinya), “Perbesarlah qurban-qurban
kalian,
*
*sebab qurban itu akan menjadi
kendaraan-kendaraan dalam melewati
jembatan*
*AshShirat menuju surga” (HR Ibnu
Rif’ah). *
*Dalam satu riwayat disebutkan, Nabi
Dawud AS pernah bertanya kepada
Allah*
*SWT tentang pahala qurban yang
diperoleh umat Nabi Muhammad
SAW.*
-- --- --- --- --- --- --- --- --- --- -
*Page 5*
*Allah SWT menjawab, “Pahalanya
adalah, Aku akan memberikan
sepuluh*
*kebajikan dari setiap satu helai
rambut qurban itu, akan melebur
sepuluh*
*kejelekan, dan akan mengangkat
derajat mereka sebanyak sepuluh
derajat.*
*Tahukah engkau, wahai Daud, bahwa
qurban-qurban itu adalah*
*kendaraankendaraan bagi mereka di*
*hari kiamat nanti, dan qurban-
qurban*
*itu pula yang menjadi penebus*
*kesalahan- kesalahan mereka.”*
*Sayyidina Ali RA berkata, “Apabila*
*seorang hamba telah berqurban,
setiap*
*tetesan darah qurban itu akan
menjadi*
*penebus dosanya di dunia dan
setiap*
*rambut dari qurban itu tercatat
sebagai satu kebajikan baginya”.*
*Hikmah yang bisa kita ambil dari
qurban adalah:*
Pertama, untuk mengenang nikmat-
nikmat yang diberikan Allah kepada
Nabi
Ibrahim
dengan digagalkannya penyembelihan
putranya, Ismail AS, yang ditebus
dengan
seekor
kambing dari surga.
Kedua, untuk membagi-bagikan rizqi
yang diberikan oleh Allah SWT kepada
umat
manusia saat Hari Raya ‘Idul Adha,
yang memang menjadi hari
membahagiakan
bagi
umat Islam, agar yang miskin juga
merasakan kegembiraan seperti yang
lainnya.
Sebagaimana telah disabdakan oleh
Nabi Muhammad Saw (artinya): “Hari
Raya
Qurban
adalah hari untuk makan, minum dan
dzikir kepada Allah” (HR. Muslim)
Ketiga, untuk memperbanyak rizqi bagi
orang yang berqurban, karena setiap
hamba yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah
akan mendapatkan balasan berlipat
ganda.
*Kisah Sayyiduna Abdullah bin Abdul
Mutthalib*
Dalam Islam, qurban tidak sekadar
memiliki dimensi religius, yang
menghu
bungkan
makhluk dengan Allah, Pencipta alam
semesta. Qurban bukan sekadar ritus
-- --- --- --- --- --- --- --- --- --- -
*Page 6*
penyembelihan binatang dan aktivitas
membagikan daging hewan kepada
mereka
yang
tidak mampu. la pun memiliki dimensi
sosial. Qurban juga memiliki akar
sejarah yang
demikian kuat dan memiliki posisi vital
di tengah-tengah masyarakat.
Berhubungan dengan sejarah qurban
seperti yang umum diketahui oleh
umat
Islam
tentang awalnya syariat qurban
diturunkan, ada satu kisah yang
menarik dari
Rasulullah
sehingga beliau menyatakan dirinya
sebagai anak dua sembelihan.
*Kisahnya ketika Abdullah bin Abdul
Muthalib belum dilahirkan. Ayahnya,
Abdul*
*Muthalib, pernah bernazar bahwa,
jika anaknya laki-laki sudah berjumlah
sepuluh*
*orang, salah seorang di antara mereka
akan dijadikan qurban.*
*Setelah istri Abdul Muthalib
melahirkan lagi anak laki-laki, genaplah
anak
laki-*
*lakinya sepuluh orang. Anak laki-laki
yang kesepuluh itu tidaklah diberi
nama*
*dengan nama-nama yang biasa, tapi
diberi nama dengan nama yang arti
dan*
*maksudnya berlainan sekali, yaitu
dengan nama “Abdullah”, yang artinya
“hamba*
*Allah” .*
Selanjutnya setelah Abdullah berumur
beberapa tahun, ayahnya, Abdul
Muthalib, belum
juga menyempurnakan nazarnya. Pada
suatu hari dia mendapat tanda-tanda
yang
tidak
tersangkasangka datangnya yang
menyuruhnya supaya
menyempurnakan nazarnya.
Oleh
sebab itu bulatlah keinginannya agar
salah seorang di antara anak laki-lakinya dijadikan qurban dengan cara disembelih.
Sebelum pengurbanan itu dilaksanakan, dia lebih dulu mengumpulkan semua anak laki-lakinya dan mengadakan undian. Pada saat itu undian jatuh pada diri Abdullah, padahal Abdullah adalah anak yang paling muda, yang paling bagus wajahnya dan yang paling disayangi dan dicintai. Tetapi apa boleh buat, kenyataannya undian jatuh padanya, dan itu harus dilaksanakan. Seketika tersiar kabar di seluruh kota Makkah bahwa Abdul Mutthalib hendak mengurbankan anaknya yang paling muda. Maka datanglah seorang kepala agama, penjaga Ka’bah , menemui Abdul Mutthalib, untuk menghalang-halangi apa yang akan diperbuat Abdul Mutthalib.
-- --- --- --- --- --- --- --- --- - -

Kepala agama itu memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Jika hal itu sampai dilaksanakan, sudah tentu kelak akan dicontoh oleh orang banyak, karena Abdul Muthalib adalah seorang wali negeri pada masa itu dan dia mempunyai pengaruh yang sangat besar di kota Makkah. Oleh sebab itu, apa yang akan dilakukannya tentu akan jadi panutan bagi warga lain. Si pemuka agama ini mengusulkan agar nazar tersebut diganti saja dengan menyembelih seratus ekor unta. Berhubung kepala agama penjaga Masjidil Haram telah memperkenankan bahwa nazar Abdul Muthalib cukup ditebus dengan seratus ekor unta, disembelihlah oleh Abdul Muthallib seratus ekor unta di muka Ka’bah . Dengan demikian Abdullah urung jadi qurban. Karena peristiwa itu pada waktu Nabi SAW telah beberapa tahun lamanya menjadi utusan Allah, Rasulullah pernah bersabda (yang artinya), “Aku anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksud Rasulullah, beliau adalah keturunan dari Nabi Ismail AS, yang juga akan disembelih tapi lalu diganti Allah dengan kibas, dan anak Abdullah, yang juga akan disembelih tapi kemudian diganti dengan seratus ekor unta.

0 komentar:

Poskan Komentar